Beranda | Artikel
Kaidah Menjadi Influencer dan Membangun Personal Branding
9 jam lalu

Dakwah media sosial dan beragam media kian semarak, sehingga lahir sebuah pekerjaan yang disebut influencer dakwah. Dampak lainnya tidak hanya kian mendekatkan jamaah dengan ilmu, tetapi juga dengan penyerunya. Dakwah tentu sangat butuh dengan kepercayaan objek dakwah terhadap dainya, sebagaimana ini menjadi modal dasar Nabi ﷺ. Namun, di zaman ini, kebaikan profil seseorang itu memiliki cara tersendiri untuk dibentuk dan dikesankan kepada publik. Bidang ini disebut dengan personal branding dan menjadi perhatian banyak orang saat ini. Maka, perlu bagi kita untuk menelaah kaidah-kaidah dalam menjadi influencer yang banyak digandrungi remaja, serta hal yang perlu diperhatikan ketika membangun personal branding.

Kaidah pertama: Jadilah pelopor kebaikan, hati-hati dari menjadi pelopor keburukan

Nabi ﷺ pernah bersabda,

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa membuat satu sunah yang baik, kemudian sunah tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat satu sunah yang buruk, kemudian sunah tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (Sunan Ibnu Majah no. 199)

Kita diperintahkan untuk menjadi pelopor kebaikan di lingkungan kita. Tentu menjadi pelopor dan menginspirasi orang lain adalah dengan menunjukkan amalan kebaikan, sehingga dapat diteladani orang lain. Namun, Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa jangan sampai menjadi pelopor keburukan. Bisa jadi ini adalah pintu dosa jariyah bagi kita.

Ketika seluruh perbuatan diinformasikan ke ruang publik, maka semuanya lepas dari kendali kita. Baik itu perbuatan baik (mulia), atau juga perbuatan buruk. Maka, berhati-hatilah dari hal ini karena penyebaran (share) hal tersebut tidak dapat kita tahan. Publik tidak punya filter yang sama baiknya untuk menyaring muatan baik maupun buruk.

Kaidah kedua: Awas riya’

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

“Sesungguhnya tidak ada yang paling aku khawatirkan atas kalian daripada syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa syirik kecil itu, wahai Rasulallah? Beliau berkata, “Riya’. Allah Ta’ala kelak akan berkata pada hari kiamat apabila manusia telah menerima balasan selaras amalannya masing-masing, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepadanya ketika didunia. Lalu lihatlah, apakah kalian menjumpai balasan di sisinya?!`” (HR. Ahmad, 39: 39; no: 2363)

Nabi ﷺ pernah bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam ahli hadis)

Berhati-hatilah atas niat dan maksud kita beramal, sudahkah murni hanya untuk Allah ﷻ? Karena amal yang diterima hanyalah amal yang murni karena Allah ﷻ. Bisa jadi memang amalan kita menginspirasi orang lain atau para follower untuk berbuat baik; tetapi jika niat kita hanya sekadar itu, maka Allah ﷻ akan sia-siakan amalan kita. Ingat! Amalan itu sesuai dengan maksud dan tujuannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas.

Kaidah ketiga: Jangan mengesankan memiliki apa yang tidak kita miliki

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

أنَّ امْرَأَةً قالَتْ: يا رَسولَ اللهِ، أَقُولُ إنَّ زَوْجِي أَعْطَانِي ما لَمْ يُعْطِنِي فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Ada seorang wanita, ia berkata, ”Wahai Rasulullah, saya pernah mengatakan kepada orang lain bahwa suami saya memberikan sesuatu kepada saya, padahal itu tidak pernah diberikan.’ Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan.’” (HR. Muslim no. 2129)

Jangan mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak kita miliki. Jangan mengesankan diri kita berilmu, padahal kita tidak berilmu. Jangan kesankan kita menghafal sekian juz, beragam mutun, padahal realitanya tidak demikian. Jangan kesankan kita layak dijadikan rujukan ilmu, padahal realitanya tidak. Hal ini yang sering menjangkiti para influencer dakwah yang memiliki media sosial besar. Akhirnya, orang-orang mengira dirinya adalah mufti yang berhak memberikan fatwa, padahal tidaklah demikian.

Dampak dari hal ini adalah:

Pertama: Jatuh ke dalam berkata-kata tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu. Dan ini sebesar-besarnya dosa menurut Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin.

Kedua: Tidak mau rujuk dan mengakui kesalahan, karena kadung besar namanya, jadi malu ketika tahu realitanya tidaklah demikian.

Ketiga: Malas belajar, karena merasa diri sudah di atas maqam orang kebanyakan, padahal ilmunya tidaklah demikian.

Ketahuilah! Mengesankan diri dengan perkara yang sejatinya tidak ada dalam diri kita itu tiada manfaat. Karena kesan manusia pada kita tidak akan menyelamatkan kita di akhirat, justru bisa menjerumuskan. Karena dalam hal tersebut dapat dipastikan ada niat dan tujuan selain Allah ﷻ. Dan niat itu jelas adalah paling minimum syirik kecil, tetapi bisa saja menjadi syirik besar yang mengundang kemurkaan Allah ﷻ.

Kaidah keempat: Jangan sampai bermuka dua

Terdapat hadis-hadis sahih yang melarang sifat dzul-wajhain (bermuka dua). Di antaranya hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الوَجْهَيْنِ، الذي يَأْتي هَؤُلَاءِ بوَجْهٍ، وهَؤُلَاءِ بوَجْهٍ

“Seburuk-buruk manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua), yaitu orang yang ketika di tengah sekelompok orang, ia menampakkan suatu wajah; namun di tengah sekelompok orang lain, ia menampakkan wajah yang lain.” (HR. Bukhari no. 7179, Muslim no. 2526)

Demikian juga hadis dari ‘Ammar bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ كان لهُ وجْهانِ في الدنيا كان لهُ يومَ القيامةِ لِسانانِ من نارٍ

“Siapa yang memiliki dua wajah di dunia, ia akan memiliki dua lidah dari api di akhirat.” (HR. Abu Daud no. 4873, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 892)

Baca lebih lanjut:

Definisi “Dzul-Wajhain” (Bermuka Dua) yang Tercela

Kaidah kelima: Jangan mengklaim diri suci

Allah ﷻ berfirman,

فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Dalam Tafsir Al-Muyassar, para ulama menjelaskan, “Jangan menyucikan diri kalian, menyanjung, dan memujinya dengan ketakwaan, karena Dia lebih tahu siapa yang menjaga dirinya dari hukuman-Nya dari hamba-hamba-Nya, lalu tidak berbuat maksiat kepada-Nya.”

Kita dilarang untuk mengesankan diri suci dari dosa dan sempurna, sebagaimana yang juga diterangkan dalam beberapa kitab tafsir. Allah ﷻ menjelaskan alasannya karena Allah ﷻ mengetahui dengan detail realita diri kita. Jadi tiada manfaat mengesankan diri hebat, karena sudah pasti kita tidak sempurna. Dan jika manusia memuji seluruhnya, itu semua tidak akan bermanfaat karena satu-satunya penilaian yang bermanfaat adalah penilaian Allah ﷻ.

Kaidah keenam: Aib wajib ditutupi

Jangan karena tidak ingin dikatakan munafik, serta ingin dikesankan jujur dan terbuka, jadi membuka aib yang wajib ditutup. Tidaklah demikian maksud dari orang jujur dalam agama kita. Bahkan, membuka aib itu bisa mendatangkan murka Allah ﷻ dan menghalangi atas pengampunan dosa yang telah Allah ﷻ janjikan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةً إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ فِي اللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ، وَقَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا، وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيَبِيتُ فِي سِتْرِ رَبِّهِ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap umatku diampuni kecuali mujâhir (orang yang membuka aib sendiri). Dan termasuk perbuatan membuka aib, seperti seorang hamba yang melakukan sebuah perbuatan pada malam hari, kemudian keesokan harinya ia berkata, ‘Wahai, fulan! Tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Allah menutupi perbuatannya, akan tetapi keesokan harinya ia membuka penutup yang Allah telah berikan.” (HR. Muslim)

Apalagi jika sampai berbangga atas dosa yang dilakukan, maka ini dosa yang teramat dahsyat. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)

Dalam hadis lain, Allah ﷻ menjadikan perbuatan berbangga dengan maksiat sebagai isyarat dari terjadinya hari kiamat. Dan telah nyata di zaman ini bahwasanya banyak influencer internet yang membanggakan dirinya telah bermaksiat. Bahkan membumbui dengan cerita yang berlebihan. Ini adalah tanda kerusakan yang teramat nyata.

Kesimpulan kaidah

Kesimpulannya, seseorang wajib mencitrakan dirinya baik, tetapi sesuai kadarnya. Bahkan dianjurkan untuk merendahkan sedikit dari level realitanya, inilah yang disebut dengan tawaduk. Mencitrakan diri dengan kebaikan adalah hal baik dan nyata berdampak baik, semisal agar dakwah diterima, dan lain-lain. Namun, perlu berhati-hati agar tidak sampai meninggikan diri melebih levelnya. Bahkan lebih buruk lagi jika berdusta untuk mengesankan diri luar biasa. Bahkan lebih hina lagi jika menjatuhkan orang lain untuk mengesankan diri istimewa.

Jadilah orang yang riil, no fake, baik di dunia nyata maupun alam maya. Nabi kita ﷺ memiliki citra baik karena hasil testimoni manusia lainnya. Adapun riwayat yang mana Nabi ﷺ menyebut kebaikan dirinya hanyalah segelintir saja, dan itu dalam rangka tarbiyah. Selebihnya, akhlak dan perbuatan beliau yang berbicara dan dipersaksikan oleh banyak orang, bukan lisan beliau. Beliau diakui kawan maupun lawan, hal ini menunjukkan bahwa pribadi beliau konsisten baik dan riil kebaikannya.

Tentu kita hanyalah hamba biasa, yang banyak kekurangan dan alpa, maka tidak layak bagi kita mengesankan kesempurnaan pada profil diri kita. Menjadi pribadi yang riil bukan berarti menzahirkan keburukan aib dan kemaksiatan. Kita tetap diperintahkan untuk menutup aib pribadi. Namun, pembahasan di sini adalah bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang wasatha, di pertengahan, sebagaimana esensi agama kita.

Teladanilah ketawadukan

Para ulama kita dari zaman sahabat sampai hari ini, terbiasa tawaduk. Mereka seringkali menolak menjawab sebuah pertanyaan dan mengarahkannya kepada orang yang lebih berhak dan lebih berilmu. Salah satunya adalah Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah yang menolak menjawab persoalan yang telah ditujukan kepada Mufti Agung Ibnu Baz rahimahullah di masa itu. Padahal, bisa jadi terdapat faidah-faidah yang beliau berikan, tetapi beliau cukupkan dengan fatwa Syekh Ibnu Baz tersebut. (Referensi: di sini)

Sebagian lagi dari mereka tidak mengesankan diri mereka berilmu dengan menyematkan gelar thuwailibul ilmi (penuntut ilmu pemula). Salah satunya yang terkenal mengatakan demikian adalah Syekh Al-Albani rahimahullah, raksasa hadis abad ini. Bahkan sebagian lagi adalah sekelas profesor dalam bidang syariat Islam, menjadi rujukan fatwa dan ilmu, tetapi tetap menyebutkan diri mereka sebagai penuntut ilmu level kecil. Sebagian lagi semangat menuliskan referensi atas tulisan dan ucapannya, karena tidak ingin orang lain mengira ucapan ini datang darinya.

Namun, godaan setan selalu naik level mengikuti level orangnya. Bisa jadi kita sudah berusaha memberikan gelar yang mengecilkan diri, tetapi di hati tetap ada rasa ingin dibanggakan orang lain. Sebagian lagi sudah berusaha menuliskan referensi tulisan, tetapi realita di hatinya bukanlah untuk tawaduk, melainkan untuk menunjukkan tingginya level bacaannya. Maka, ini adalah perjuangan sepanjang hayat bagi seorang mukmin untuk melawan riya’ dari setan. Terlebih lagi di zaman media sosial yang membuat semua hal tak lagi menjadi rahasia.

Pesan kami bagi para influencer kebaikan, tebarlah kebaikan lillahi Ta’ala. Imbangilah apa yang Anda share dengan memperbanyak amalan sirr (amalan rahasia yang tidak diketahui orang lain).

Baca juga: Riya’: Ujian bagi Orang-Orang Saleh

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/112607-kaidah-menjadi-influencer-dan-membangun-personal-branding.html